Pelanggan Banjir

Banjir kembali melanda. Ciri khas bila musim hujan telah tiba. Untuk kesekian kalinya, mata ini menjadi saksi peristiwa yang terjadi akibat keteledoran dan ketidakmampuan manusia dalam mengatur hidupnya.

Sudah seminggu ini, kelurahan meranti kecamatan Rumbai dan daerah disekitarnya  terendam banjir. Letak pemukiman yang lebih rendah dari sungai siak membuat luapan air dari sungai tersebut dengan mudah memasuki pemukiman tersebut. Belum lagi gundukan sampah menambah kesuksesan air kiriman tersebut untuk menenggelamkan rumah warga.

Dalam pemantauan Kompas dari pesawat Twin Pack TNI Angkatan Udara Pekanbaru bersama tim Departemen Kehutanan, sebagian hutan lindung Bukit Suligi dan Tanaman Hutan Rakyat di Riau telah beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit, rumah penduduk, dan sebagian ditinggalkan dalam kondisi rusak setelah pohon-pohon ditebangi.

Hutan lindung Bukit Suligi merupakan hulu Sungai Siak. Sungai Siak yang meluap dan menyebabkan banjir di Kota Pekanbaru merupakan satu-satunya sungai di Riau yang berhulu di Provinsi Riau.

Sungai-sungai lain yang melintasi Riau mempunyai hulu di provinsi tetangga, yakni Sungai Kampar dan Sungai Indragiri, yang berhulu di Sumatera Barat, serta Sungai Rokan yang berhulu di Sumatera Utara.

Menteri Kehutanan MS Kaban mengakui adanya perencanaan tata ruang yang tidak sinkron dengan kondisi sebenarnya. Di kawasan hulu sungai, misalnya, tanaman perkebunan lebih banyak. Padahal, seharusnya mempunyai banyak hutan.

“Perlu ada program yang sinergis antara pemerintah pusat dan daerah karena bagaimanapun pembangunan di daerah harus tetap terlaksana, tetapi kawasan hutan juga tetap berfungsi,” kata Kaban.

Tentang penanganan banjir di Riau, Kaban berjanji mengundang Gubernur Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Riau untuk duduk bersama.

Terlepas dari kontrofersi siapa dan apa penyebab banjir, hendaknya kita introspeksi diri. Dari kebiasaan yang kita anggap sepele seperti membuang sampah sembarangan(biarpun hanya sebungkus permen), sampai kebiasaan manusia dalam merealisasikan ketamakannya (merusak hutan demi mencari harta).

Semoga di musim hujan tahun2 mendatang, Negara kita tidak lagi menjadi pelanggan tetap bencana banjir.

1 Tanggapan ke “Pelanggan Banjir”


  1. 1 raflis Agustus 29, 2007 pukul 5:12 am

    Perlu ada analisis mendalam dalam menyikapi banjir ini, Faktor penyebab harus segera ditemukan, sehingga kita tidak lagi mencari kambing hitam dalam persoalan ini. Analisis ini seharusnya menjadi faktor utama dalam penyusunan sebuah rencana tata ruang


Tinggalkan Balasan